Kamis, 4 Juni 2009, sekitar jam 9 malam.
Saya dan kelompok saya sedang merapikan packing-an kami untuk perjalanan simulasi besok jum’at ke Halimun saat seorang mentor kelompok kami datang dan memberitahukan kepada kami bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang akan dibicarakan bersama tim besar di Pusbintakwa, Pusgiwa, saat itu juga. Kami bergegas turun membawa packing-an kami yang telah siap. Di Pusbin (Pusbintakwa maksudnya), kami melihat wajah-wajah para mentor tegang, atau sengaja dibuat tegang?, sementara caang-caangnya saya lihat berwajah kebingungan dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sama dengan pertanyaan yang ada dalam benak saya, ada apa gerangan?. Saat si Ketua Mapala, sebut saja C, berbicara dengan cara bicara, yang kelihatan sengaja dibuat-buat, agak berat, datang seorang mentor, sebut saja D yang seolah sengaja mencegah C mengatakan sesuatu. Singkat cerita, terjadi adu mulut antara si D dengan si C serta seorang yang seolah paling punya kepentingan dengan masalah tersebut, sebut saja si T. Di sini sudah terlihat agak janggal. Seorang yang berpendidikan seperti D, apalagi anggota Mapala UI yang terhormat, marah-marah kepada ketua Mapala di depan para caang dengan cara yang sangat tidak berpendidikan seperti itu? Memaki dan mengumpat dengan kasar? Aneh. Di antara para caang sendiri sebenarnya sudah mulai terdengar bisik-bisik tidak sedap. Ini hanya skenario, kalimat itu lah yang paling mendominasi pikiran-pikiran para caang. Walaupun ada juga wajah-wajah yang saya lihat sangat serius menanggapi hal tersebut. Saya sendiri masih bertanya-tanya, sebenarnya skenario seperti apa yang mereka mainkan dan peran apa yang akan senior-senior tersebut mainkan dalam drama ini? Rupanya, ada seorang anggota mapala, sebut saja Dd, yang melaporkan bahwa ada beberapa orang rekannya yang mendaki Gunung Gede via Situ Gunung yang rencananya mendaki hanya sampai hari senin tapi sampai kamis pagi ternyata belum ada kabar dari mereka bahwa mereka telah turun. Dan akhirnya si Dd ini menyatakan bahwa teman-temannya itu hilang dan meminta bantuan anak mapala untuk mencari “teman-temannya” yang hilang itu. Akhirnya diambil lah satu keputusan, dengan mengabaikan suara-suara penolakan, suara si D lebih tepatnya, bahwa perjalanan simulasi esok hari ke Halimun akan dialihkan menjadi perjalanan SAR ke Situ Gunung.
Ada lagi hal yang aneh di sini, menurut saya. Saat si T ditanya siapa saja korban yang hilang tersebut, si T seperti bingung dan berdalih bahwa informasi masih akan terus dikorek dari si Dd selaku informan dan data lengkapnya baru akan dipasang di ruang caang besok harinya. Kenapa aneh? Saya pikir, jika ada suatu kejadian bukankah yang akan ditanyakan pertama kali itu identitas korban ya? Apalagi telah diambil keputusan untuk nge-SAR mereka, seharusnya data korban sudah lengkap, minimal nama sudah harus ada. Tapi ini? Nama-nama korbannya saja masih belum pasti, eh… sudah ambil keputusan. Kalaupun memang si T dan yang lain belum mengetahui siapa-siapa saja korbannya, seharusnya si T bisa menanyakan langsung kepada si Dd nama-nama korban saat itu juga, tapi kenapa itu tidak dilakukan? Ah sudahlah, mungkin akal sehat tertutup rasa panik, sehingga dia tidak bisa bekerja secara maksimal. Saya pun kalau panik sering tidak bisa berpikir secara logis. Parahnya, saya lebih sering panik ketimbang tidak. Hhaa.
Adalah saat tengah malam saya pulang bonceng 3 bersama 2 orang teman saya, di depan stasiun UI, lewatlah dua motor. Di atasnya duduk 4 orang, 3 diantaranya saya kenal wajah-wajahnya. Motor paling depan ada mentor F dan J, di motor di belakangnya ada mentor A dan seorang yang saya tidak kenal wajahnya. Satu hal aneh lagi di sini. Kelompok saya, kelompok 10, adalah kelompok gabungan dari kelompok 9 dan kelompok 10. Jadi, mentor kelompok 9 pun jadi mentor kelompok saya juga. Nah, si mentor A yang saya jumpai naik motor berboncengan di depan stasiun UI itu adalah salah satu mentor kelompok 9 yang berarti sekarang jadi mentor kelompok saya juga. Masalahnya, seingat saya mentor A ini bilang dia tidak bisa menemani kami dalam perjalanan simulasi ini karena suatu hal, tapi yang saya lihat malam itu, si mentor A ini membawa carrier yang telah dipacking rapi dan siap jalan. Sebelumnya saya juga sempat melihat adanya gelagat yang agak mencurigakan (menurut saya). Sebelum pulang, demi bisa “nebeng” pulang dengan kawan saya itu saya ikut menemani kawan saya tersebut ke parkiran motor pusgiwa untuk mengambil motor. Saat itu, saya melihat keempat orang mentor yang telah saya sebutkan di atas tadi tengah mengendap-endap (terlihat seperti itu menurut saya… hohoho) dalam kegelapan menuju parkiran motor. Nah loh, ada apa ini? Posisinya juga sangat pas sekali, 3 cowok+1 cewek. Hhaahaha… saya mulai mengerti skenario permainan ini. Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan analisa saya. Besok, nama-nama korban akan dipasang di ruang caang. Yang saya pikirkan adalah nama korban yang cewek satu-satunya itu. Kalau saja, nama yang besok jum’at dipasang itu “nyerempet-nyerempet” nama si mentor A, berarti habislah sudah. Yakinlah saya ini hanya permainan. Dan apa yang saya lihat esok harinya adalah benar seperti dugaan saya. Tepat sekali. Nama “korban” cewek satu-satunya itu. Saya hanya bisa tersenyum memikirkan itu semua. Oke. Anda ingin bermain-main? Kami akan ikuti permainan anda. Hhaahaha.
Jum’at, 5 Juni 2009
Dari rencana awal berangkat jam 4 sore, ternyata waktu keberangkatan mundur, seperti biasa. Lepas maghrib kami baru berangkat dari pusgiwa, dengan menggunakan 3 tronton. Perjalanan yang terlalu santai dan terlalu menyenangkan untuk dibilang sebagai perjalanan “nge-SAR”. Kami seperti dibiarkan untuk bersenang-senang. Dari waktu keberangkatan saja sudah terasa janggal. Ngaret memang sudah jadi kebiasaan orang Indonesia (lebay ah…). Tapi kali ini, parah. Kalau benar ini “beneran” nge-SAR orang ilang, saya yakin “orang-orang “ hilang itu sudah mati bahkan sebelum kami sempat mengangkut carier kami ke dalam tronton. Hal tersebut semakin meyakinkan diri saya bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam perjalanan SAR kali ini. Ditambah lagi, perjalanan ini benar-benar seperti perjalanan wisata, tawa dimana-mana, mungkin karena hampir semua caang sudah tau bahwa ini hanya permainan. Tiba di lokasi kami akan mendirikan tenda, ternyata di sana banyak warung-warung yang menjajakan aneka jajanan. Benar-benar seperti piknik. Dan, tebak apa? Di sana ada kamar mandi! Argh, kalau tau akan ada kamar mandi, saya pasti akan membawa peralatan mandi saya, tapi arghhh… mana saya tau! Hhuu…
Jum’at tengah malam, briefing awal perjalanan besok, sabtu pagi. Kami akan dibagi menjadi 3 OSC (kelompok pencari gitu deh, tiap OSC mencari dengan rute yang berbeda2, ada 3 OSC dalam perjalanan kali ini), masing-masing OSC terdiri dari beberapa SRU (kelompok kecil dalam OSC). Dimana, pergerakan masing-masing OSC tergantung dari instruksi SMC (bos-nye, yang memberi instruksi pada OSC untuk kemudian diteruskan oleh yang bertanggungjawab dalam OSC ini kepada SRU-SRU nya), dalam hal ini adalah si T (tepat seperti dugaan saya, orang inilah yang paling punya kepentingan dalam perjalanan kali ini). Kelompok saya sendiri menjadi SRU 7 dan masuk ke dalam OSC 3. Kami akan menelusuri jalur ke 3, jalur yang mungkin dilewati oleh korban. Selanjutnya adalah penjelasan teknis perjalanan dan barang-barang bawaan korban yang mungkin akan menjadi petunjuk bagi kami untuk menemukan posisi korban. Selanjutnya adalah, istirahat!!!
Sabtu, 6 Juni 2009
Setelah briefing dan pemanasan, tiap OSC mulai bergerak dengan jalur pencarian masing-masing. Tidak banyak petunjuk berarti yang kami temukan selain sebuah ktp usang atas nama Khairuddin asal Depok yang sebenarnya namanya saja sudah hampir tidak terlihat. Pencarian berjalan lambat dan tidak terlalu menarik buat saya. Karena kami masih berada di wilayah seseorang mustahil bisa hilang. Kenapa? Di tempat ditemukannya ktp usang-nyaris-tak-terbaca itu ada penjual minuman. Hahaha. Dan kami juga sesekali masih bertemu para “pendaki gembira” di tempat tersebut. Setelah mencapai ketinggian tertentu (lagi-lagi lupa koordinatnya…), jauh setelah menemukan ktp usang-nyaris-tak-terbaca tersebut, karena hari sudah hampir gelap, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp.
Minggu, 7 Juni 2009
Ada perubahan posisi perjalanan kelompok kami. Kelompok kami, SRU 7 dalam OSC 3, tukar posisi dengan SRU 5 yang berada dalam OSC 2. Kami jadi SRU 5 dan yang tadinya SRU 5 menempati kami sebagai SRU 7. Jadilah kami menelusuri jalur 2, jalur tengah. Mentor jalan kami pun berbeda dengan yang kemarin. Kalau kemarin ada mentor D, mentor F, dan satu lagi saya lupa (kalau tidak salah ada mentor M), hari ini mentor jalan kami adalah mentor O, mentor AR, dan mentor A. Sepanjang penelusuran kami penuh dengan canda tawa, sampai berkali-kali mentor mengingatkan kami, bahwa perjalanan kali ini bukan sekedar perjalanan naik gunung biasa, tapi ada misi terselip di dalamnya, menyelamatkan nyawa orang. Nyawa orang! Ingat! Nyawa orang! Bukan mainan! Ahh… sebenarnya kami juga sudah berusaha untuk serius dan pura-pura tidak tau bahwa ini hanya rekayasa, tapi bagaimana lagi, kami sudah terlanjur tau, jadi ya… kami santai saja. Menikmati perjalanan senang-senang kali ini. Hhehe.
Menjelang tengah hari kami mulai menemui titik terang. Kami mulai menemukan benda-benda yang kami duga adalah milik para korban, seperti topi dan pembalut wanita. Benda-benda tersebut masih terlalu baru untuk mementahkan dugaan kami bahwa benar para “korban” melewati jalur yang sedang kami susuri ini. Dengan yakin kami terus menyusuri jalur kami ini dengan harapan para “korban” berada tidak terlalu jauh di depan kami.
Setelah sempat menyeberang sungai kecil dan “memanjat” jalur tanah yang licin sehabis hujan dengan menggunakan sistem pengaman, kami belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan para “korban”. Menjelang malam, kami memutuskan untuk mencari tempat datar untuk flying camp (menjadikan flysheet sebagai atap dan matras sebagai alas, mengingat kondisi tanah yang yang tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda). Selain karena pertimbangan alam yang telah mulai gelap, ada seorang teman kelompok saya kambuh asma-nya. Jadilah kami memutuskan untuk beristirahat di tempat tersebut (saya tidak ingat koordinat tempat kami berada dan berada di ketinggian berapa). Malam itu kami semua, dengan suksesnya, kedinginan! Karena pertimbangan efisiensi beban, kami satu kelompok tidak ada yang membawa sleeping bag (ada satu orang yang sakit dan hanya dia yang membawa sleeping bag ). Dan hasilnya adalah saya nyaris beku! Kaos kaki pun tidak ada (saya tidak pernah membawa kaos kaki cadangan karena saya tidak terlalu suka memakai kaos kaki dan saya menyesal…hehehe).
Ingatan saya akan malam itu tidak akan pernah terlepas dari satu orang. Hmmm. Seorang teman. Jadi ceritanya, karena teman saya yang kambuh asma-nya tersebut membutuhkan tempat yang “lega” agar sesak nafasnya tidak menjadi semakin parah, mengungsilah saya ke bivak (shelter sementara selain flysheet; dibuat dari ponco) teman saya. Mereka bertiga dalam satu bivak, sebut saja Fr, Y, dan X (saya lupa yang X ini siapa). X dan Y ini sudah bersiap-siap untuk tidur saat saya dan Fr tengah asik berbincang. Tiba pada saat si Fr ini menawarkan untuk meminjamkan matras untuk alas tidur saya setelah dia tahu saya belum tahu dimana saya akan tidur malam ini. Saya yang licik mulai mengiba pada si Fr untuk ikutan tidur berselimutkan sleeping bag di dalam bivak bersama yang lain. Saya berharap, setidaknya kaki saya sedikit terselamatkan dari kebekuan dengan menyelinap di bawah sleeping bag. Tahukah sodara? Si Fr ini meminjamkan matrasnya pada saya dan mempersilahkan saya tidur di (dekat) bivak mereka. Saya dibiarkan tidur di luar. Beratapkan langit. Langsung. Hmmm… terima kasih. Saya akan selalu ingat saat itu Fr… hahaha… poor you ummu. Hahaha.
Senin, 8 Juni 2009
Pagi hari. Setelah semalaman tidak bisa tidur nyenyak yang disebabkan oleh beberapa hal (kedinginan, posisi tidur yang tidak oke –merosot melulu karena kondisi tanah yang miring–, khawatir pacet tiba-tiba menyelinap, dagdigdug karena seperti melihat sorot cahaya di tengah malam dari suatu tempat tidak jauh di sana, sampai sempat berpikir bahwa ada hantu yang berbudi baik karena sempat terdengar suara berbisik mengucap istighfar –walaupun akhirnya bisa berpikir bahwa di sana ada seorang mentor berbudi baik berjiwa bersih bersama kami yang sampai dalam tidurnya pun kalimat itu lah yang diucapkan, siapa lagi kalau bukan mentor A? Subhanallah–), kegiatan pagi hari pun dimulai dengan agak terlambat. Rencana semula adalah kami akan mulai kembali mencari para “korban" sebelum jam 7. Tapi seperti biasa. Jam karet memang paling lengket.
Sekitar jam 9 lewat sedikit, selesai membersihkan basecamp, kami kembali berjalan mencari kalau-kalau ada petunjuk tentang keberadaan para “korban”. Tapi memang untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak (apa coba???). Belum 10 menit kami berjalan, tim leader –saya sendiri ¬sweeper– berteriak “flysheet merah… flysheet merah…”. Rupanya mereka melihat ada flysheet merah yang melindungi tenda yang didirikan dibawahnya. Dan rupanya mereka-lah para “korban” yang dilaporkan hilang oleh Dd, rekan senior di Mapala. Alamak. Belum 10 menit loh kami jalan. Ternyata ada begitu dekat dengan basecamp kami semalam. Olala. Saat kami datangi, salah satu korban –mentor J– sedang masak sayur asem. Ah… itukan kesukaan saya. Hehehe. Keadaan para “korban” baik-baik saja. Hanya satu yang pura-pura terluka karena terjatuh –skenarionya seperti itu–. Dan benar seperti dugaan saya sebelumnya. Para “korban” itu adalah para mentor yang saya lihat berjalan mengendap-endap menuju parkiran motor dan orang-orang yang sama dengan yang saya jumpai di depan halte stasiun UI malam saat dilaporkan hilang. Hanya saja tidak ada mentor F sebagai korban di sana. Posisinya digantikan oleh senior S. Seorang yang kemudian saya tau sebagai jurnalis (atau wartawan atau fotografer??? Saya juga sebenarnya kurang tau. Hohoho.).
Malamnya, setelah tim besar –sengaja atau tidak– diputar-putarkan di dalam hutan dalam keadaan sudah gelap dan tanah licin karena hujan serta pacet-pacet yang sejak awal kami datang telah memulai pestanya, kami turun dengan cepat dan buru-buru. Perosotan. Benar-benar, kaki saya rasanya kaku. Berkali-kali terjatuh tanpa sadar. Hahaha. SEERRRRUUUU!!!!!
Selasa, 09 Februari 2010
Sabtu, 06 Februari 2010
hati apa kabar hati???
-->
Senin, 14 Desember 2009
16.31 waktu saya.
Hati apa kabar hati?
Dimana, sedang apa, dan bagaimanakah kamu sekarang?
Saya rindu.
Akhir-akhir ini saya sedang mulai bertanya pada diri saya sendiri.
Perasaan apa yang sebenarnya saya punya buat kamu?
Apa itu namanya?
Suka, sayang, cinta, atau… obsesi?
Saya tidak tau pasti arti dari keempat nama tersebut.
Tapi, saya rasa perbedaan keempat nama tersebut sangatlah tipis sekali.
Seorang teman pernah berkata, kalau saya mungkin hanya sekedar suka kamu. Saya tergila-gila sama kamu karena kamu ada tidak jauh dari jangkauan mata saya. Saya terlalu sering bertemu kamu. Jadi, mungkin bila kamu jauh dari jangkauan mata saya dan kita tidak pernah bertemu, rasa yang saya punya buat kamu juga akan menguap dengan sendirinya.
Seorang teman yang lain bilang mungkin saya cinta mati sama kamu. Ah. Apa itu cinta? Apa lagi itu cinta mati? Saya harus jatuh cinta lalu saya harus mati? Ah. Saya tidak tau apa itu artinya.
Seorang teman yang lain lagi bilang mungkin saya ter-“obsesi” sama kamu. Katanya saya tergila-gila sama kamu saat kamu “dingin” sama saya. Tapi saat kamu mulai “lumer”, saya tidak lagi “gila” sama kamu.
Entahlah.
Saya rasa saya sayang sama kamu.
Bukan sekedar suka. Karena ternyata berminggu-minggu saya tidak melihat kamu, saya semakin rindu, bukannya lupa, dan malah semakin menggebu-gebu.
Bukan juga cinta. Karena tidak ada keinginan, atau lebih tepatnya “tidak berani untuk ingin”, untuk memiliki kamu. Hmm. Entah itu bisa jadi alasan atau tidak. Tapi saya rasa hati tidak butuh alasan untuk masalah hati.
Dan bukan obsesi. Karena… entahlah. Hanya saja saya rasa bukan itu namanya. Bukan obsesi.
Saya rasa saya sayang kamu.
Kenapa “saya rasa”? karena yang berperan di sini adalah hati saya, bukan otak. Saya pernah mencoba memakai otak untuk memainkan peran hati saya. Tapi ternyata tidak bisa. Seringkali otak saya bertentangan dengan hati saya. Hati tidak bisa diajak berpikir logis. Karena hati tidak punya otak.
Hmm. Saya rasa sayang kamu. Karena… entahlah. Saya rasa nama itu mungkin lebih tepat untuk menjelaskan perasaan yang saya punya buat kamu.
Saya bahagia melihat kamu bahagia. Walaupun kamu bahagia bersama wanita lain dan ada ngilu yang saya rasakan di hati saya, tapi saya bahagia melihat kamu bahagia. Meskipun saya juga sakit melihat kamu berduka.
Kenapa ya?
Ah entahlah.
Entah suka, entah sayang, entah apapun itu namanya. Saya hanya ingin melihat kamu tertawa, merasa bahagia saat kamu bahagia, dan kalau diijinkan saya ingin bisa memikul sedikit beban yang kamu pikul saat kamu merasa berat.
Sederhana.
Tapi saya rasa yang “sederhana” itu menjangkar begitu dalam di hati saya.
-Semoga kebaikan selalu menaungi kamu dimanapun kamu berada-
Langganan:
Komentar (Atom)