"Awalnya c tergoda bwt coba2, setelah nemuin nikmatny, mmm… KETAGIHAN!!!"
Kalimat biasa saja memang, bagi sebagian dari kalian yang membacanya mungkin tidak ada artinya, tapi mungkin ada sebagian lain dari kalian yang membacanya dengan senyum senyum geli atau merasa agak lumayan aneh dengan kalimat itu. Apapun itu, tapi kalimat itu pernah saya jadikan status facebook saya. Memangnya kenapa???
Kalimat itu tadi ada hubungannya dengan kegiatan yang sama sekali baru saya yang baru saya jalani sekitar ±3 bulan terakhir ini. Kegiatan yang benar-benar mengasyikkan, yang benar-benar bisa membuat anda lupa diri, lupa waktu, lupa segalanya! Bukan bukan, anda salah kalau berpikir bahwa kegiatan yang saya maksudkan itu ada hubungannya dengan kegiatan yang "itu-itu" (definisi "itu-itu" tergantung bagaimana imajinasi anda bekerja, hhaaa). Kegiatan baru yang saya maksud itu, ehmmm,,, jeng jeng jeng jeng,,, BKP MAPALA UI 2009!!! Ya, itu dia,,, BKP itu akronim dari Badan Khusus Pelantikan, jadi intinya BKP ini merupakan kegiatan untuk seleksi calon anggota MAPALA UI yang rekruitmen-nya cuma terjadi 2 TAHUN SEKALI dan keanggotaannya SEUMUR HIDUP!!! 2 tahun sekali mannn… 2 tahun sekali coba… bayangkan! Anda kuliah di UI katakanlah 4 tahun, dan kesempatan untuk menjajal kegiatan menempuh rimba dan pendakian gunung serta kegiatan kepencita alam-an bersama MAPALA UI hanya ada 2 kali selama hidup anda sebagai mahasiswa UI!!! Pantaslah slogan-nya adalah "Bergabunglah bersama tawa ceria kami SEKARANG JUGA atau tunggu 2 TAHUN lagi"! Tapi mungkin seharusnya ada kalimat tambahan "-kalau anda lulus dan menangis darahlah anda kalau gagal"! hhaaaa. Walaupun ada juga seorang senior yang gahar yang bilang kepanjangan dari BKP adalah Biro Khusus Perjodohan. Entah si senior ini serius atau sekedar bercanda. Saya tidak bisa membedakan kapan saat dia serius dan kapan saat dia bercanda. Saya sendiri tidak mengerti maksud si senior yang mungkin sebenarnya baik itu, untuk lebih jelasnya mungkin anda harus bertanya sendiri pada senior tersebut. *tips bertemu dengan senior yang mungkin sebenarnya baik itu : kekuatannya ada pada matanya, hindari bertatapan langsung dengan matanya! percayalah!
Kegiatan BKP ini sangat padat dan panjang sekali, terhitung mulai bulan Februari sampai nanti Pelantikan bagi yang lulus di bulan November! Anda bisa hitung sendiri berapa total lamanya BKP ini berlangsung, kalau bagi wanita hamil ,mungkin dia sudah melahirkan sepanjang waktu itu. Lalu, apa hubungannya kalimat yang saya tulis di atas tadi dengan BKP MAPALA UI 2009 ini???
Saya itu tipe orang yang tidak tertarik dan sebenarnya tidak mampu kalau disuruh ikutan dengan kegiatan apapun yang ada hubungannya sama organisasi. Saya ini autis kalau kata seorang teman. Saya sangat menikmati dunia saya sendiri, dan agak-agak susah kalau harus berada dalam sekumpulan orang-orang yang ehm,,, agak tidak asik. Teman-teman saya ramai-ramai mendaftarkan diri ikutan BEM (entah bem universitas ataupun bem fakultas), saya melirik pun tidak. Yang lain sibuk "nyangkutin" nama dalam kepengurusan HM-HM, saya minat pun tidak. Orang-orang ribet ikut kepanitiaan ini itu yang kelihatannya repot sekali saya lebih memilih tidak melakukan apapun. Buat saya kuliah ya cukup kuliah saja. Tapi, saat saya lewat di depan stasiun, saat saya melihat stand Mapala, ada satu perasaan lain (tsaaaahhh…) yang saya rasakan. Pemahaman saya waktu itu tentang mapala adalah "orang-orang dekil yang doyan naik gunung"; "orang-orang yang mencintai kebebasan"; "orang-orang garang nan keren". Saya merasa ketiga definisi mapala yang berasal dari pemahaman saya pribadi ada juga dalam diri saya. Hanya saja untuk yang "doyan naik gunung" itu belum ada dalam diri saya waktu itu. Saya sebenarnya sangat ingin sekali naik ke gunung manaaaa gitu, tapi selama ini saya tidak punya cukup keberanian dan pengetahuan yang cukup tentang kegiatan penelusuran alam ini. Saat saya melihat stand mapala dengan formulir-formulirnya dan foto-foto kegiatan mapala selama ini yang oke-oke, saya berpikir "mungkin inilah saatnya saya menyalurkan keinginan-keinginan saya yang selama ini hanya berakhir sebagai keinginan saja". Dan mungkin inilah saatnya bagi saya untuk belajar "bersosialisasi" dengan baik. Ya, saya harus belajar jadi makhluk sosial yang baik di sini dengan cara bersosialisasilah dengan baik. Halah.
Naik gunung itu bukan kegiatan yang gampang. Naik gunung itu butuh fisik yang oke. Untuk membentuk fisik yang oke yang siap untuk "menjelajah" gunung, ada joging rutin setiap hari rabu mulai jam 4 sore dilanjutkan dengan latian fisik (sit up, push up, & pull up). Jujur saja, dari dulu saya itu termasuk orang yang paling tidak bisa lari. Sayangnya, olahraga yang selalu ada di setiap jenjang pendidikan adalah lari. Mungkin karena lari itu olahraga yang paling murah, hanya modal fisik. Selama SD, SMP, & SMA saya terpaksa lari hanya demi nilai untuk lulus saja. Itu pun bukan nilai maksimal yang saya kejar, karena lari pun saya selalu ada di barisan terakhir, yang penting dapat nilai. Alhasil, luluslah saya dengan nilai yang lumayan oke menurut saya mengingat kemampuan lari saya yang segitu-gitu saja. Untung saja nilai lari digabung dengan nilai olahraga yang lain, kalau saja nilai olahraga dijabarkan satu per satu, saya yakin nilai lari saya adalah nilai yang paling tidak layak untuk dilihat. Tapi sekarang, mau tidak mau saya harus mau jogging. Bukan untuk mengejar nilai untuk lulus, karena memang tidak ada pengambilan nilai jogging di sini, tapi saya jogging untuk diri saya sendiri. Kalau saya mau fisik saya oke dan siap untuk "menjamah" gunung, bukan orang lain, tapi saya sendiri yang harus membentuknya secara bertahap dimulai dengan jogging rutin itu. Dan memang banyak sekali manfaat yang saya dapat dari jogging rutin ini. Awalnya memang sangat berat sekali untuk memulai jogging. Jogging pertama saya di BKP, rutenya dari pusgiwa-teknik-jalan tembus depan teknik arah asrama itu sampai portal sebelum wisma makara. Tidak seberapa jauh sebenarnya, tapi, mungkin karena baru pertama kali, capeknya, hmmm… mantap! Jogging pertama ini sangat berkesan dan begitu membekas di hati saya, karena pegalnya itu SEMINGGU nggak ilang-ilang! Saking berkesannya, saya masih ingat siapa-siapa saja mentor yang menemani kami jogging saat itu! Hmmm… lebih.
Jogging ini benar-benar banyak sekali manfaatnya. Selain fisik saya jadi terasa lebih sehat, jogging ini menjadi jalan bagi saya untuk mendapatkan ijin ibu saya. Hahaha. Saya ikut BKP ini hanya berbekal ijin dari abang saya tanpa ada pemberitahuan kepada orangtua saya, karena saya tau, mereka pasti tidak akan mengijinkan saya ikut kegiatan yang pastinya akan sangat melelahkan ini. Benar saja, saat saya memberitahu orangtua saya, mereka langsung dengan tegas melarang saya meneruskan mengikuti kegiatan ini. Percuma saja sebenarnya, karena yang saya sampaikan itu hanya sekedar pemberitahuan saja, bukan minta ijin, jadi dengan atau tanpa ijin mereka saya pastikan saya akan tetap meneruskan mengikuti kegiatan ini selama saya mampu. Adalah saat saya pulang dan bertemu ibu saya. Ibu saya terkesima melihat saya saat itu. Ibu saya senang melihat fisik saya terlihat lebih segar dan ehemmm… agak gendutan. Haha. Ibu saya senang ternyata saya bisa gendut juga dan mengijinkan saya meneruskan kegiatan BKP ini. Simple sekali. Dengan menjadi sedikit gendut, ijin langsung saya genggam. Ahahaha.
Selain jogging, BKP secara keseluruhan membawa banyak perubahan dalam diri saya. Masalah saya dengan yang namanya sosialisasi seperti yang sudah saya sebut di atas, sedikit bisa saya atasi dan tidak terlalu menimbulkan masalah berarti bagi saya. Saya menemukan satu aroma persahabatan yang berbeda. Persahabatan yang benar-benar "nikmat". Di sini saya hanya perlu menjadi diri saya sendiri, mau menghargai orang lain, tanggungjawab, dan berani mengambil peran halah. Saya menjadi saya yang kata seorang teman lebih ceria wohooo dan saya yang lebih tegas*halah. Ya, saya menemukan keluarga baru.
Berkat beberapa kali perjalanan yang telah saya lalui, saya jadi bisa masak! Aha. Masak bagi saya mempunyai arti mengolah suatu bahan makanan sehingga layak untuk dimakan oleh saya sendiri tentunya. Yang penting bahan makanan itu matang, soal rasa nomer kesekian lah. Selama saya masih sangggup untuk menelan hasil masakan saya itu berarti proses masak memasak saya berhasil. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, soal rasa itu nomer kesekian. Seperti tadi pagi, saya masak tumis kangkung+tahu goreng untuk sarapan yang bahannya saya dapat dari penjual sayur di dekat kost-an saya. Hmm… yummy, walaupun rasa bawangnya sangat terasa sekali, bahkan masi terasa sampai sekarang, karena bawang putih yang saya masukkan kebanyakan. Ahahaha. Tapi secara keseluruhan sarapan saya tadi pagi itu enak sekali. Ahaaa. Saya juga jadi lebih menghargai segala sesuatu sekarang. Seperti misalnya, nasi yang saya masak sendiri pake rice cooker, berhubung saya terbiasa masak pakai bantuan alat itu, saya bingung bila dihadapkan dengan nesting dan harus masak sendiri, saya bingung bagaimana saya harus menakar berapa banyak beras dan air yang harus saya pakai. Takutnya, nanti nasinya terlalu keras atau terlalu lembek. Kalau untuk saya sendiri itu tidak menjadi masalah, tapi ini saya masak untuk kelompok. Kasian kelompok saya kalau nasi yang saya masak tidak sesuai selera mereka. Padahal nasi itu, karena kita orang Indonesia, adalah sumber tenaga utama untuk perjalanan berat selama di gunung. Intinya, sejujurnya, saya tidak bisa pada awalnya dan belum terlalu bisa sampai sekarang untuk masak nasi memakai nesting itu. Jadi, setiap saya makan nasi dari rice cooker itu saya selalu berpikir mana bisa makan nasi seenak ini kalau di gunung? Saya jadi menghargai nasi masakan saya dan si rice cooker itu. Halah. Lalu mandi, sekarang saya benar-benar menikmati, meresapi, menghayati setiap kali saya mandi. Di gunung mana bisa mandi seperti itu? minum saja pakai hitung-hitungan dulu, apakah cukup atau tidak untuk sampai hari terakhir kita di gunung. Mana ada air untuk mandi?
Kegiatan BKP ini sangat padat dan panjang sekali, terhitung mulai bulan Februari sampai nanti Pelantikan bagi yang lulus di bulan November! Anda bisa hitung sendiri berapa total lamanya BKP ini berlangsung, kalau bagi wanita hamil ,mungkin dia sudah melahirkan sepanjang waktu itu. Lalu, apa hubungannya kalimat yang saya tulis di atas tadi dengan BKP MAPALA UI 2009 ini???
Saya itu tipe orang yang tidak tertarik dan sebenarnya tidak mampu kalau disuruh ikutan dengan kegiatan apapun yang ada hubungannya sama organisasi. Saya ini autis kalau kata seorang teman. Saya sangat menikmati dunia saya sendiri, dan agak-agak susah kalau harus berada dalam sekumpulan orang-orang yang ehm,,, agak tidak asik. Teman-teman saya ramai-ramai mendaftarkan diri ikutan BEM (entah bem universitas ataupun bem fakultas), saya melirik pun tidak. Yang lain sibuk "nyangkutin" nama dalam kepengurusan HM-HM, saya minat pun tidak. Orang-orang ribet ikut kepanitiaan ini itu yang kelihatannya repot sekali saya lebih memilih tidak melakukan apapun. Buat saya kuliah ya cukup kuliah saja. Tapi, saat saya lewat di depan stasiun, saat saya melihat stand Mapala, ada satu perasaan lain (tsaaaahhh…) yang saya rasakan. Pemahaman saya waktu itu tentang mapala adalah "orang-orang dekil yang doyan naik gunung"; "orang-orang yang mencintai kebebasan"; "orang-orang garang nan keren". Saya merasa ketiga definisi mapala yang berasal dari pemahaman saya pribadi ada juga dalam diri saya. Hanya saja untuk yang "doyan naik gunung" itu belum ada dalam diri saya waktu itu. Saya sebenarnya sangat ingin sekali naik ke gunung manaaaa gitu, tapi selama ini saya tidak punya cukup keberanian dan pengetahuan yang cukup tentang kegiatan penelusuran alam ini. Saat saya melihat stand mapala dengan formulir-formulirnya dan foto-foto kegiatan mapala selama ini yang oke-oke, saya berpikir "mungkin inilah saatnya saya menyalurkan keinginan-keinginan saya yang selama ini hanya berakhir sebagai keinginan saja". Dan mungkin inilah saatnya bagi saya untuk belajar "bersosialisasi" dengan baik. Ya, saya harus belajar jadi makhluk sosial yang baik di sini dengan cara bersosialisasilah dengan baik. Halah.
Naik gunung itu bukan kegiatan yang gampang. Naik gunung itu butuh fisik yang oke. Untuk membentuk fisik yang oke yang siap untuk "menjelajah" gunung, ada joging rutin setiap hari rabu mulai jam 4 sore dilanjutkan dengan latian fisik (sit up, push up, & pull up). Jujur saja, dari dulu saya itu termasuk orang yang paling tidak bisa lari. Sayangnya, olahraga yang selalu ada di setiap jenjang pendidikan adalah lari. Mungkin karena lari itu olahraga yang paling murah, hanya modal fisik. Selama SD, SMP, & SMA saya terpaksa lari hanya demi nilai untuk lulus saja. Itu pun bukan nilai maksimal yang saya kejar, karena lari pun saya selalu ada di barisan terakhir, yang penting dapat nilai. Alhasil, luluslah saya dengan nilai yang lumayan oke menurut saya mengingat kemampuan lari saya yang segitu-gitu saja. Untung saja nilai lari digabung dengan nilai olahraga yang lain, kalau saja nilai olahraga dijabarkan satu per satu, saya yakin nilai lari saya adalah nilai yang paling tidak layak untuk dilihat. Tapi sekarang, mau tidak mau saya harus mau jogging. Bukan untuk mengejar nilai untuk lulus, karena memang tidak ada pengambilan nilai jogging di sini, tapi saya jogging untuk diri saya sendiri. Kalau saya mau fisik saya oke dan siap untuk "menjamah" gunung, bukan orang lain, tapi saya sendiri yang harus membentuknya secara bertahap dimulai dengan jogging rutin itu. Dan memang banyak sekali manfaat yang saya dapat dari jogging rutin ini. Awalnya memang sangat berat sekali untuk memulai jogging. Jogging pertama saya di BKP, rutenya dari pusgiwa-teknik-jalan tembus depan teknik arah asrama itu sampai portal sebelum wisma makara. Tidak seberapa jauh sebenarnya, tapi, mungkin karena baru pertama kali, capeknya, hmmm… mantap! Jogging pertama ini sangat berkesan dan begitu membekas di hati saya, karena pegalnya itu SEMINGGU nggak ilang-ilang! Saking berkesannya, saya masih ingat siapa-siapa saja mentor yang menemani kami jogging saat itu! Hmmm… lebih.
Jogging ini benar-benar banyak sekali manfaatnya. Selain fisik saya jadi terasa lebih sehat, jogging ini menjadi jalan bagi saya untuk mendapatkan ijin ibu saya. Hahaha. Saya ikut BKP ini hanya berbekal ijin dari abang saya tanpa ada pemberitahuan kepada orangtua saya, karena saya tau, mereka pasti tidak akan mengijinkan saya ikut kegiatan yang pastinya akan sangat melelahkan ini. Benar saja, saat saya memberitahu orangtua saya, mereka langsung dengan tegas melarang saya meneruskan mengikuti kegiatan ini. Percuma saja sebenarnya, karena yang saya sampaikan itu hanya sekedar pemberitahuan saja, bukan minta ijin, jadi dengan atau tanpa ijin mereka saya pastikan saya akan tetap meneruskan mengikuti kegiatan ini selama saya mampu. Adalah saat saya pulang dan bertemu ibu saya. Ibu saya terkesima melihat saya saat itu. Ibu saya senang melihat fisik saya terlihat lebih segar dan ehemmm… agak gendutan. Haha. Ibu saya senang ternyata saya bisa gendut juga dan mengijinkan saya meneruskan kegiatan BKP ini. Simple sekali. Dengan menjadi sedikit gendut, ijin langsung saya genggam. Ahahaha.
Selain jogging, BKP secara keseluruhan membawa banyak perubahan dalam diri saya. Masalah saya dengan yang namanya sosialisasi seperti yang sudah saya sebut di atas, sedikit bisa saya atasi dan tidak terlalu menimbulkan masalah berarti bagi saya. Saya menemukan satu aroma persahabatan yang berbeda. Persahabatan yang benar-benar "nikmat". Di sini saya hanya perlu menjadi diri saya sendiri, mau menghargai orang lain, tanggungjawab, dan berani mengambil peran halah. Saya menjadi saya yang kata seorang teman lebih ceria wohooo dan saya yang lebih tegas*halah. Ya, saya menemukan keluarga baru.
Berkat beberapa kali perjalanan yang telah saya lalui, saya jadi bisa masak! Aha. Masak bagi saya mempunyai arti mengolah suatu bahan makanan sehingga layak untuk dimakan oleh saya sendiri tentunya. Yang penting bahan makanan itu matang, soal rasa nomer kesekian lah. Selama saya masih sangggup untuk menelan hasil masakan saya itu berarti proses masak memasak saya berhasil. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, soal rasa itu nomer kesekian. Seperti tadi pagi, saya masak tumis kangkung+tahu goreng untuk sarapan yang bahannya saya dapat dari penjual sayur di dekat kost-an saya. Hmm… yummy, walaupun rasa bawangnya sangat terasa sekali, bahkan masi terasa sampai sekarang, karena bawang putih yang saya masukkan kebanyakan. Ahahaha. Tapi secara keseluruhan sarapan saya tadi pagi itu enak sekali. Ahaaa. Saya juga jadi lebih menghargai segala sesuatu sekarang. Seperti misalnya, nasi yang saya masak sendiri pake rice cooker, berhubung saya terbiasa masak pakai bantuan alat itu, saya bingung bila dihadapkan dengan nesting dan harus masak sendiri, saya bingung bagaimana saya harus menakar berapa banyak beras dan air yang harus saya pakai. Takutnya, nanti nasinya terlalu keras atau terlalu lembek. Kalau untuk saya sendiri itu tidak menjadi masalah, tapi ini saya masak untuk kelompok. Kasian kelompok saya kalau nasi yang saya masak tidak sesuai selera mereka. Padahal nasi itu, karena kita orang Indonesia, adalah sumber tenaga utama untuk perjalanan berat selama di gunung. Intinya, sejujurnya, saya tidak bisa pada awalnya dan belum terlalu bisa sampai sekarang untuk masak nasi memakai nesting itu. Jadi, setiap saya makan nasi dari rice cooker itu saya selalu berpikir mana bisa makan nasi seenak ini kalau di gunung? Saya jadi menghargai nasi masakan saya dan si rice cooker itu. Halah. Lalu mandi, sekarang saya benar-benar menikmati, meresapi, menghayati setiap kali saya mandi. Di gunung mana bisa mandi seperti itu? minum saja pakai hitung-hitungan dulu, apakah cukup atau tidak untuk sampai hari terakhir kita di gunung. Mana ada air untuk mandi?
"Awalnya c tergoda bwt coba2" ikutan BKP MAPALA UI 2009, tapi "setelah nemuin nikmatny" persahabatan ala mapala, "mmm… KETAGIHAN!!!"
Itulah faktanya, saya benar-benar kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan pesona mapala. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak yakin saya akan lulus seleksi tahap I ini apalagi seleksi tahap II, ada satu hal, hanya SATU HAL!, yang saya yakin akan menjadi penghalang jalan saya menuju akhir dari seleksi tahap I bahkan. Tidak lain dan tidak bukan adalah "SATU mata kuliah terkutuk" itu. Cuma dia penghalang kemulusan jalan saya. Ah, andai "mata kuliah sok penting" itu tidak seribet dan semenjijikkan ini, saya rela untuk mengulang lagi tahun depan. Andai si-mantan-"asdos-statsos-kami"-yang-sekarang-juga-menjadi-asdos-"mata-kuliah-terkutuk-itu" tidak sok oke dengan mengganti jadwal seminar seenaknya, saya pasti bisa ikut perjalanan akhir bulan ini. Mungkin si-mantan-"asdos-statsos-kami"-yang-sekarang-juga-menjadi-asdos-"mata-kuliah-terkutuk-itu" berpikir bahwa dengan mengganti jadwal seminar dari yang seharusnya diadakan sebelum UAS menjadi setelah UAS agar selama UAS mahasiswa tidak terganggu dengan urusan laporan seminar, revisi makalah, pre-test dan segala macamnya itu, kami para mahasiswa akan menangis terharu karena berkat kecerdasannya UAS menjadi tidak terganggu dan si-mantan-"asdos-statsos-kami"-yang-sekarang-juga-menjadi-asdos-"mata-kuliah-terkutuk-itu" akan nampak bak pahlawan yang dikelilingi cahaya gilang gemilang. TOLOL itu namanya! Mana ada yang akan berterima kasih atas segala penderitaan ini? Ah, mata kuliah macam apa ini?!! Saya tidak ingin kehilangan segala sesuatu yang telah saya dapatkan selama di BKP ini. Semua itu terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja. Apalagi bila penyebabnya adalah si mata kuliah sok penting itu! Argh… saya depresi!
Jadi apa yang harus saya lakukan?
Jadi apa yang harus saya lakukan?
"Awalnya c tergoda bwt coba2, setelah nemuin nikmatny, mmm… KETAGIHAN!!!"