Sabtu, 06 November 2010

hujan kali ini...

Hujan. Mengingatkan saya tentang satu waktu. Saat saya masih tinggal bersama ibu bapak saya. Hujan hujan begini ibu biasanya membuatkan kami gorengan, entah pisang, entah ubi, entah apapun, plus teh hangat untuk menghangatkan kami yang kedinginan di sore yang basah. Selalu. Saat ibu masih bugar. Sekarang saat ibu sudah renta, tidak ada lagi momen momen seperti itu. Bapak saya pun sudah tidak muda lagi. Tapi masih harus bekerja, belum lama ini beliau malah dipindahtugaskan ke luar kota. Wira wiri Wonosobo-Pemalang dengan membawa kendaraan sendiri. Bapak saya bukan orang yang mahir mengendalikan kendaraan bermotor. Tidak pernah mau mendahului kendaraan didepannya, walaupun jalanan sebenarnya tengah lengang. Saya ingat saya pernah kesal sekali dengan bapak saya ini. Saat itu di sore yang gerimis dalam perjalanan pulang membonceng bapak saya. Di depan kami ada mobil yang lajunya lambat sekali. Selambat bapak saya mengemudikan motornya. Saya yang tidak sabaran memaksa bapak saya untuk mendahului mobil keong itu. Tapi bapak saya dengan tenangnya bilang tidak perlu mendahului, tunggu mobil itu belok saja, karena sepertinya mobil itu memang akan belok masuk gang di depan kami. Padahal saat itu jalanan benar-benar lengang dan kami tidak memakai jas hujan. Seharusnya bapak saya bisa langsung mendahului mobil keong itu tadi. Hhhh.. dan bapak saya ini walaupun telah lama bisa mengendarai kendaraan bermotor, caranya menyetir seperti anak kecil yang baru belajar naik motor, kaku sekali dan seperti mau jatuh saja. Itulah kenapa saya selalu was-was kalau mengingat bapak saya sedang berkendara sendirian di usia setua ini. Saya selalu merasa lebih tenang melihat bapak saya di rumah saja, walaupun saya juga kasihan melihat bapak saya bingung tidak melakukan apapun di rumah. Seharusnya, di usia setua ini, saya yang ganti mengurus mereka, ibu dan bapak saya. Saya merasa gagal sebagai anak. Seharusnya saya yang menggantikan ibu saya membuatkan gorengan di sore hari yang basah untuk bapak saya. Seharusnya saya yang ganti mengantarkan kemanapun bapak pergi seperti dulu beliau selalu mengantarkan kemanapun saya mau pergi. Seharusnya saya yang ganti menggorengkan pisang, ubi dan membuatkan ibu teh manis hangat dan kopi untuk bapak untuk sekedar menghangatkan badan di sore yang hujan dan dingin. Seharusnya.
Hujan kali ini bukan hujan saat itu. Tidak ada lagi pisang goreng, tidak ada lagi ubi goreng, tidak ada lagi teh manis hangat kesukaan saya. Sendirian saya di sini. Kadang saya menyesali kenapa begitu cepat saya memutuskan keluar dari rumah dan hidup jauh dari kedua orang tua saya. Kenapa sepanjang waktu saya bersama kedua orang tua saya tidak pernah menjadi waktu yang berkualitas untuk kami. Terlebih waktu saya bersama ibu saya. Ibu orang yang sangat sedikit bicara, dan cenderung kaku. Jarang sekali ibu saya ini tertawa. Karenanya, saat-saat ibu saya bisa sedikit tertawa selalu jadi bahan ledekan yang segar untuk kami, karena itu memang momen yang sangat langka dari ibu saya. Watak saya dan ibu itu sama saja, sama-sama keras kepala. Karena itu saya tidak terlalu dekat dengan ibu. Jarang sekali saya berbagi cerita dengan ibu saya. Kami sering bertabrakan. Batu diadu dengan batu. Sama-sama keras, tidak ada yang mau mengalah. Itulah sebenarnya salah satu alasan saya memutuskan melanjutkan SMA di Jogja, agar bisa jauh-jauh dari ibu saya, karena jujur saja saya merasa berdosa harus selalu perang dingin dengan ibu. Saya pikir kalau kami jarang bertemu mungkin kami akan jarang bertengkar juga. Dan memang itu yang terjadi. Saat-saat saya bersama ibu saya menjadi jauh lebih berkualitas daripada saat saya belum keluar dari rumah. Untuk satu hal ini, saya merasa sangat bersyukur dan merasa bahwa keputusan saya untuk keluar dari rumah dan hidup sendiri di luar kota adalah keputusan yang tepat. Setiap keputusan itu seperti mata uang logam. Selalu ada dua sisi yang berseberangan. Di satu sisi saya bersyukur hidup jauh dari ibu bapak karena saya bisa mengerti bagaimana rasanya merindukan seseorang dan bagaimana berharganya waktu saat saya bertemu dengan mereka saya rindukan. Tapi di sisi lain, saya menyesal karena masih terlalu sedikit waktu yang saya habiskan untuk mereka dibanding waktu yang mereka habiskan untuk saya.